SEBUAH KISAH
MENDEKATI Bulan Ramadhan ini, saya akan berbagi sebuah kisah. Kisah yang sebisanya kita dapat mengambil pelajaran darinya, agar kita semakin menjadi seorang muslim yang taat dan seutuhnya mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah saw. Demikian selamat membaca.
Alkisah, setelah wafatnya Nabi dan kota Madinah saat itu dikuasai para sahabatnya. Ada seorang Arab Badui yang datang ke Madinah dan berniat masuk Islam. Arab badui itu mengetahui bahwa Nabi telah wafat dan memutuskan untuk belajar Islam dari para sahabatnya. Ia mengajukan 3 pertanyaan agar ia bisa menjalankan Islam dengan mudah dan ringkas. Jadi Ia menanyakan 3 hal itu setiap kali menemui seseorang yang dikiranya adalah sahabat Nabi. Tiga pertanyaan itu adalah:
1. Apa Amalan terbaik dalam agama Islam?
2. Apa Bulan terbaik dalam agama Islam?
3. Apa Hari terbaik dalam agama Islam?
Dan jawaban yang ia dapatkan selalu serupa dan sama yaitu amalan terbaik adalah shalat, bulan terbaik adalah bulan Ramadhan dan hari terbaik adalah hari Jumat. Merasa puas dan yakin dengan jawaban yang ia terima, ia pun berencana untuk segera kembali ke kampung halamannya. Tetapi tepat saat akan meninggalkan gerbang kota Madinah, ia bertemu Ali bin Abi Thalib, seperti biasa ia juga menanyakan hal yang sama kepada Ali. Tapi jawaban yang diberikan Ali sangat berbeda dari yang ia terima sebelumnya.
Di pertanyaan pertama, Ali menjawab amalan terbaik dalam agama Islam bukanlah shalat, zakat, puasa ataupun lainnya. Ali mengatakan amalan terbaik adalah amalan yang diterima oleh Allah Swt. Jawaban yang terlihat lugu tapi maknanya sangat dalam. Percuma jika kita melakukan shalat jungkir balik berapa kali pun jika shalat itu tidak diterima oleh Allah. Bagaimana bisa kita tahu amalan kita diterina oleh Allah adalah dengan melihat bagaimana amalan itu bisa menjaga kita dari melakukan perbuatan yang keji yang dilarang Allah. Oleh karena itu perhatikanlah setiap kualitas dari amalan-amalan yang kita lakukan bukan kepada kuantitasnya.
Pada pertanyaan kedua, Ali menjawab bulan terbaik bukan bulan Ramadhan, tetapi bulan dimana kita melakukan lebih sedikit kemaksiatan dan berbuat lebih banyak kebajikan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, kita biasanya lebih banyak menghabiskan makanan daripada menghematnya, di bulan Ramadhan mungkin sebagian dari kita menganggapnya sebagai waktu dimana kita bisa bermalas-malasan karena sedang menjalankan ibadah puasa yang membuat tubuh kita lebih lemah dibanding bulan lainnya. Bukan bermaksud mengurangi kesucian bulan Ramadhan, tetapi jika pada bulan itu tidak ada peningkatan positif pada diri kita, apalah artinya bulan Ramadhan itu.

Komentar
Posting Komentar